Kolaborasi PAMAPERSADA dan Puskesmas Trahean Gelar Edukasi PMBA untuk Tekan Angka Stunting
MUARA TEWEH - PT PAMAPERSADA NUSANTARA SITE SMMS bersinergi dengan UPT Puskesmas Trahean menggelar kegiatan Penyuluhan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) yang disertai dengan demonstrasi memasak berbahan pangan lokal.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari program percepatan pencegahan stunting di masyarakat. Agenda tersebut dirancang untuk mengedukasi serta mengasah keterampilan para ibu hamil dan orang tua balita dalam menyajikan asupan bergizi demi masa tumbuh kembang anak yang optimal.
Edukasi yang dilaksanakan di Desa Bintang Ninggi 1 dan Desa Bintang Ninggi 2 ini dihadiri oleh masing-masing sekitar 30 peserta yang terdiri dari kalangan ibu hamil serta orang tua balita. Sebelum rangkaian acara inti dimulai, para peserta diwajibkan untuk mengisi *pre-test* terlebih dahulu. Langkah tersebut bertujuan untuk mengukur sejauh mana pemahaman awal para peserta terkait dengan kesehatan masa kehamilan serta penerapan pola asuh PMBA.
Pelaksanaan penyuluhan tersebut dibagi ke dalam dua sesi utama yang interaktif dengan fokus pembahasan yang berbeda. Sesi pertama mengupas tuntas mengenai pencegahan Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil sejak periode sebelum menikah beserta tata laksana penanganan stunting. Selain itu, pemateri juga memaparkan tentang urgensi pemberian ASI eksklusif, pemenuhan gizi seimbang, pentingnya sanitasi, hingga panduan tahapan pemberian MPASI berdasarkan kategori usia anak.
Guna mempermudah pemahaman peserta, fasilitator menggunakan alat peraga seperti poster "Isi Piringku" dan mengadakan permainan edukatif untuk mengelompokkan jenis makanan. Pada sesi berikutnya, para peserta diajak langsung mempraktikkan pengolahan menu MPASI kaya protein hewani dengan memanfaatkan bahan lokal seperti ikan, telur, dan hati ayam. Petugas gizi yang mendampingi juga memberikan edukasi mengenai kesesuaian tekstur makanan agar aman dikonsumsi oleh bayi dan balita.
Keberhasilan program ini terlihat dari lonjakan hasil evaluasi melalui *post-test* yang diadakan setelah seluruh materi dan praktik memasak selesai dilakukan. Pada tahap awal, rata-rata peserta hanya sanggup menjawab dengan benar sekitar 40 persen dari total 12 pertanyaan yang diajukan oleh panitia. Namun, setelah mendapatkan edukasi mendalam, tingkat pemahaman melonjak drastis hingga 95 persen peserta mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan tepat.
“Peningkatan hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa metode edukasi yang menggabungkan penyampaian materi, diskusi interaktif, serta praktik langsung memasak efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gizi ibu dan anak,” kata salah satu peserta bernama Juwanda. Dia berharap, pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendukung pemenuhan gizi keluarga dan menjadi langkah nyata dalam menurunkan angka stunting. Melalui inisiatif ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya gizi sejak masa pranikah hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan dapat terwujud demi melahirkan generasi masa depan yang sehat dan cerdas.
